Mungkin ini sebuah cita-cita atau harapan penulis. Yang jelas apa yang ada dalam tulisan ini sangat aku harapkan.
- Tidak pakai seragam, artinya bebas mengenakan pakaian asal sopan
- Tidak diatur jam kerjanya, karena akan membatasi ide. Ide itu datangnya tidak tentu. Saat ada ide, maka saat itulah yang terbaik untuk menyelesaikan sebuah job. Termasuk juga di dalamnya masalah absen. Janganlah orang-orang IT itu dipaksa absen jam sekian dan sekian.
- Tidak dibatasi akses informasi dalam rangka mencari referensi di internet.
- Diberikan spesifikikasi komputer yang tinggi, agar pembuatan program aplikasi dapat cepat. Kalau bagian end user atau pengguna komputer ala kadarnya saja cukup tak perlu yang bagus-bagus. Jangan karena alasan tidak enak hati maka mengorbankan prinsip prioritas dan penghematan.
- Sesekali refreshing atau wisata agar pikiran yang penat menjadi jernih kembali. Ini penting agar dalam bekerja tidak stress. Para karyawanpun tidak mencari jalan refreshing sendiri seperti main game dan sebagainya.
- Tidak dibatasi akses tempat dan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Ini penting agar dimanapun dan kapanpun, pekerjaan dapat diupdate atau diselesaikan. Apalagi dengan bantuan teknologi sekarang ini.
- Doktrin bahwa pekerjaan adalah hobby, tantangan dan prestasi. Kalau ini sudah dimiliki oleh karyawan TI, maka aku yakin output berupa program aplikasi akan bagus dan cepat selesai.
Upsss…..
Bagi orang-orang birokrat seperto PNS-POLRI-TNI-PEMDA tentu itu terlarang sekali. Kerja harus pakai seragam, karena seragam itu mencerminkan kepatuhan dan loyalitas terhadap pekerjaanya. Eitssss… tunggu dulu, apakah cocok untuk mereka yang bekerja di bidang TI (Teknologi Informasi).
Karena kerja TI itu ide, bukan rutinitas
Banyak pekerjaan yang hanya merupakan rutinitas. Dari pagi sampai sore kerjaanya cuma itu-itu saja dan esok haripun kerjaanya seperti itu. Contohnya resepsionis, staf administrasi surat, operator mesin dan sejenisnya.
Kondisi kerja yang pekerjaanya adalah rutinitas sangat nyaman dan patut untuk mengenakan seragam. Diatur jam masuk dan jam pulang kerja. Para konsumen atau pengguna jasa juga akan merasa puas dengan model seperti ini, karena akan memberikan kesan profesionalisme, dan pelayanan yang baik.
Berbeda sekali dengan dunia TI. TI adalah sebuah pekerjaan dibelakang layar. Pekerjaannya satu tetapi selesainya bisa berhari-hari atau bahkan berbulan-bulan, sesuai dengan periode yang ditentukan.
Membuat program bukanlah rutinitas. Tetapi adalah pekrjaan yang membutuhkan ide dan pemikiran yang jernih agar kualitas program yang dihasilkan akan bagus. Bayangkan jika membuat program dibatasi waktunya Seperti jam mulai dan jam selesai. Tentunya akan kacau sekali hasilnya.
OK lah kalau pekerjaan yang sifatnya rutin itu dibatasi jam mulai dan selesai. Seorang karyawan akan dapat mengukur berapa banyak pekerjaan yang dapat ia selesaikan sampai jam kerja selesai. Nhaa orang TI tidaklah demikian, sebuah job akan dapat selesai dengan cepat, tetapi bisa juga sangat lama, tergantung tingkat kesulitan yang dihadapi. Memecahkan sebuah algoritma tidak semudah menerima surat, mencatat kemudian mengirimkan.
Bayangkan kalau sedang membuat logika program, eeehhh jam kerja selesai. Kalau doktrin yang dimiliki seorang karyawan adalah bahwa aku digaji dari jam sekian sampai sekian. Ketika jam kerja selesai, entah itu pekerjaan selesai atau tidak, maka ia akan tinggalkan pekerjaan itu. Dan akan dilanjutkan esok hari. Tentunya tingkat kecepatan penyelesaian sebuah tugas akan lebih lama.
Lihatlah dunia luar yang mereka itu sukses dan punya produk yang bermutu.
Lihatlah google. Menerapkan kebebasan berekspressi terhadap karyawannya. Doktrinnya adalah kerja itu tantangan dan prestasi. Otomatis semua orang akan berlomba memberikan hasil yang terbaik.
Lain jika seorang karyawan IT dibebani batasan-batasa misalnya waktu, seragam, tentunya akan mengurangi kreatifitas. Sekali lagi kerja TI itu bukan rutinitas yang dapat diselesaikan tanpa mikir banyak.
Lihatlah kualitas IT pemerintahan kita ? Mana yang maju ? Mana yang baik ? Jawabannya kita sudah tau. Kalah jauh dengan swasta. Lho kan PNS itu bukan menangani bidang TI. Siapa bilang ? Sekarang ini TI menjadi separoh dari nyawa sebuah institusi. Lembaga atau institusi mana yang sekarang tidak menggunakan komputer ? Jaman kemerdekaan kaleee !!!
Yang jelas ada doktrin yang salah. Kerja baik atau tidak, masuk kerja atau mbolos toh tetep digaji. Tolak ukur pns yang bidangnya IT untuk menyelesaikan pekerjaan itu masih pada itung-itungan untung dan rugi. Bukan karena prestasi kerja.
Pegawai berprestasi sama yang null putul gajinya sama. Ini kondisi yang tidak kondusif. Jadi kalau ada yang berpikiran ini kan pemerintahan bukan swasta, berarti orang tersebut tidak cocok untuk menjadi pengambil keputusan atau pimpinan TI. Dia cocok bagi bagian yang berhadapan dengan masyarakat.
Menurutku perlu ada penyesuaian pola kerja untuk mereka yang bekerja di bidang TI. Yaa sesuai apa yang aku tulis di atas. Dari soal jam kerja sampai masalah seragam pakaian.
Lho mengapa sih soal pakaian kok mempengaruhi kinerja ?
Sepertinya terlalu mengada-ada dan memaksakan diri ?
Pertama, orang-orang yang bekerja di bidang IT biasanya tidak berhubungan dengan dunia luar. Inti pekerjaannya adalah bahwa job yang berikan selesai dengan baik.
Kedua, menggunakan seragam hanya menambah ruang pikiran dan waktu serta tenaga untuk menjaga seragamnya itu.
Ketiga, Seragam lebih membatasi komunikasi dengan dunia TI diluar. Sekarang aku tanya, kalau sedang ikut seminar, pelatihan, training dan sebagainya apakah merasa nyaman dengan seragam instansinya. Tentunya hanya akan menimbulkan suatu blok sendiri yang membatasi ruang komunikasi.
Masih banyak alasan lain mengapa orang-orang TI lebih suka kebebasan berekspressi dalam segala hal. !
Terus kalo ada bos atau orang yang bilang “lho ini kan di sini aturannya kaya gini, kamu harus pake seragam, harus patuh ini dan itu ! kalo gak mau patuh yaa jangan kerja di sini !” Yaaa tunggu aja, khusus untuk pegawai-pegawai TI-nya orientasinya cuma kerja sesuai job. Tak akan ada prestasi lebih, tak akan ada perkembangan yang lebih. Karena apa, mereka kerja hanya untuk digaji. Tak lebih dari itu. Soalnya cari kerja sekarang susah.
Source : www.kaskus.com





